Judul: Pengelolaan Perpustakaan Sekolah
Penulis: Drs. Bafadal Ibrahim, M. Pd.
Penerbit: Bumi Aksara
Tahun Terbit: Cetakan 8, Juli 2011
Tebal: ix + 209 halaman
ISBN: 979-526-059-6
Baca entri selengkapnya »
Judul: Pengelolaan Perpustakaan Sekolah
Penulis: Drs. Bafadal Ibrahim, M. Pd.
Penerbit: Bumi Aksara
Tahun Terbit: Cetakan 8, Juli 2011
Tebal: ix + 209 halaman
ISBN: 979-526-059-6
Baca entri selengkapnya »
Salah satu aktivitas dalam pengelolaan perlengkapan pendidikan di sekolah adalah mencatat semua perlengapan yang dimiliki oleh sekolah. Lazimnya, kegiatan pencatatan semua perlengkapan itu disebut dengan istilah inventarisasi perlengkapan pendidikan. Kegiatan tersebut merupakan suatu proses yang berkelanjutan. Secara definitif, inventarisasi adalah pencatatan dan penyusunan daftar barang milik negara secara sistematis, tertib, teratur berdasarkan ketentuan-ketentuan atau pedoman yang berlaku. Inventarisasi sarpras pendidikan adalah kegiatan pencatatan semua sarana prasarana dan merupakan suatu proses berkelanjutan, barang milik negara. Menurut Keputusan Menteri Keuangan RI Nomor Kep. 225/MK/V/4/1971 barang milik negara adalah berupa semua barang yang berasal atau dibeli dengan dana yang bersumber, baik secara keseluruhan atau sebagaian, dari Anggaran Pendapat Belanja Negara (APBN) ataupun dana lainnya yang barang-barangnya di bawah penguasaan pemerintah, baik pusat, provinsi, maupun daerah otonom, baik yang berada di dalam maupun luar negeri.
Landasan hukum yang mendasari kegiatan inventarisasi perlengkapan sekolah, yaitu
Philos (cinta) dan Sophia (kebijaksanaan) bahasa Yunani yang menjadi asal muasal kata dari filosofi atau filsafat. Filosofi berarti cinta akan kebijaksanaan. Dari sinilah sebuah filosofi dikatakan sebagai ilmu yang menjadi dasar dari seluruh ilmu yang menjadi panutan manusia. Tanpa adanya sebuah filosofi maka ilmu yang lain tidak akan berkembang. Filosofi dapat berguna untuk mengentaskan manusia dari kehilangan jati diri yang memiliki sebuah tujuan dan arah.
Filosofi dalam pendidikan mencakup suatu kebijakan-kebijakan pendidikan yang baru, mengusulkan cita-cita yang baru tanpa mempertimbangkan persoalan filosofis seperti hakikat kehidupan yang baik, kemana pendidikan diarahkan. Sebuah filosofi memiliki bagian yang penting yaitu mencari sebuah norma-norma serta tujuan. Dengan itu filosofi dapat mendorong manusia memperluas bidang kesadaran untuk menjadi lebih baik, lebih cerdas dan lebih aktif. Selain itu dapat menumbuhkan keyakinan akan agama dengan fondasi yang matang secara intelektual dalam diri manusia. Keterkaitan dengan agama yaitu suatu keharmonisan, penyesuaian, tanggung jawab, komitmen, pengabdian, perdamaian, kebijakan, keselamatan serta tentang Tuhan.
Baca entri selengkapnya »
Kebijakan (policy) secara etimologi (asal kata) diturunkan dari bahasa Yunani, yaitu “Polis” yang artinya kota (city). Kebijakan menurut Carl Friedrich (Agustino, 2008) adalah serangkaian tindakan/kegiatan yang diusulkan oleh seseorang, kelompok, atau pemerintah dalam suatu lingkungan tertentu dimana terdapat hambatan-hambatan (kesulitan-kesulitan) dan kemungkinan-kemungkinan (kesempatan-kesempatan) dimana kebijakan tersebut diusulkan agar berguna dalam mengatasinya untuk mencapai tujuan yang dimaksud.
Pendidikan merupakan proses pengubahan sikap dan tata laku seseorang atau kelompok orang dl usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan; proses, cara, perbuatan mendidik. Analisis adalah proses untuk mengidentifikasi suatu peristiwa guna dicari kebenarannya. Analisis kebijakan pendidikan yaitu alat (tool) bagi para pakar pendidikan, para perencana pengembangan sumber daya manusia, para penguasa untuk membantu menghayati proses pendidikan dalam pembangunan, dan dengan demikian dapat mengambil keputusan yang tepat (Tilaar, 1994)
Salah satu bentuk kebijakan yang dikeluarkan oleh Pemerintah adalah Kebijakan Pendidikan Sistem Ganda (dual system). Sistem ini berusaha mengintegrasikan kepentingan dunia pendidikan dengan dunia industri. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kualitas pendidikan, khususnya Sekolah Menengah Kejuruan (SMK), baik pengetahuan, ketrampilan maupun etos kerja yang sesuai dengan tuntutan lapangan kerja, sehingga siap masuk ke pasaran kerja Melalui PSG diharapkan ada kesesuaian antara mutu dan kemampuan yang dimiliki lulusan, dengan tuntutan dunia kerja.
Pendidikan Sistem Ganda yang diselenggarakan pada sekolah menengah kejuruan merupakan salah satu bentuk implementasi kebijakan “link and match” antara dunia pendidikan dengan dunia kerja. Bentuk penyelenggaraan Pendidikan Sistem Ganda menekankan pada pendidikan keahlian profesional yang memadukan secara sitematik dan sinkron antara program pendidikan di sekolah dengan program keahlian yang diperoleh langsung di perusahaan.
Baca entri selengkapnya »
Judul: Manajemen Sekolah — Teori Dasar dan Praktik Dilengkapi dengan Contoh Rencana Strategis dan Rencana Operasional
Penulis: Dr. Rohiat, M. Pd.
Penerbit: Refika Aditama
Tahun Terbit: Cetakan 3, Juni 2010
Tebal: xv + 236 halaman
ISBN: 979-1073-39-2
Baca entri selengkapnya »
Kode etik dan tata cara menerima telepon dengan baik, misalnnya kepada orang tua, rekan kerja, atasan kerja dll.
Kode etik menerima telepon dengan baik :
Tata cara manerima telpon dengan baik :
Sumber :
http://crowdedpencil.wordpress.com/2009/12/30/menjawab-telepon-yang-baik-benar/
Secara yuridis ketetapan lahirnya Manejemen Berbasis Sekolah di Indonesia bergulir sejak era reformasi. Hal ini telah ditetapkan dalam peraturan perundangan tentang UU Otonomi Daerah, UU No 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah, dan UU No 25 tentang perimbangan kekuatan keuangan antara Pusat dan Daerah (kini disempurnakan menjadi UU No 32 tahun 2004 dan UU No 33 tahun 2004), yang telah mengubah segala peraturan dari yang bersifat sentralistik (top down) menjadi desentralisasi. Pemerintah pusat telah memberikan kewenangan bagi masing-masing daerah untuk mengatur atau mengurus segalah urusan rumah tangga daerahnya masing-masing termasuk dalm hal pendidikan.
Tujuan implementasi program MBS adalah jelas untuk mencapai peningkatan mutu dalam penyelenggaraan pendidikan, sejalan dengan apa yang tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003, pendidikan diselenggarakan dengan prinsip pemberdayaan seluruh komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.
Baca entri selengkapnya »
Manajemen berasal dari kata to manage yang berarti pengelola. Pengelolaan dilakukan melalui proses dan dikelola berdasarkan urutan dan fungsi fungsi manajemen itu sendiri. Manajemen adalah melakukan pengelolaan sumberdaya yang dimiliki oleh sekolah atau rganisasi yang diantaranya adalah manusia, uang, metode, material, mesin dan pemasaran yang dilakukan dengan sistematis dalam suatu proses (Rohiat,2010). Manajemen merupakan proses pendayagunaan semua sumber daya dalam rangka mencapai tujuan yang telah ditetapkan (Bafadal: 2003).
Sarana adalah segala sesuatu yang dapat dipakai sebagai alat dalam mencapai maksud atau tujuan; alat; media (KBBI ctkn I, 1988). Sarana pendidikan menurut Bafadal adalah semua perangkat peralatan, bahan, dan perabotan yang secara langsung digunakan dalam proses pendidikan di sekolah.
Prasarana pendidikan adalah semua perangkat kelengkapan dasar yang secara tidak langsung menunjang pelaksanaan proses pendidikan di sekolah (Bafadal, 2003). Untuk prasarana sendiri merupakan alat yang tidak secara langsung yang bertujuan untuk pencapaian suatu tujuan.
Baca entri selengkapnya »
Serangkaian penelitian tentang kepemimpinan mulai dari klasik sampai modern yang banyak dilakukan di Amerikan Serikat. Studi klasik dari kepemimpinan tersebut dijabarkan dalam buku Thoha (2010) yaitu
Mulanya usaha untuk mempelajari kepemimpinan dilakukan pada tahun 1930 oleh Ronald Lippitt dan Ralph K. White dibawah pengarahan Kurt Lewin di Universitas Iowa.dalam penelitian ini ada tiga style kepemimpinan, yaitu otoriter, demokratis, dan semaunya sendiri (laissez faire). Pemimpin otoriter bertindak sangat direktif, selalu memberikan pengarahan, dan tidak memberikan kesempatan untuk timbulnya partisipasi. Pemimpin demokratis mendorong kelompok diskusi dan pembuat keputusan. Untuk pemimpin semaunya sendiri (laissez faire) mmemberikan kebebasan yang mutlak pada kelompok. Suatu pencapaian hasilnya yang terlihat dalam penelitian ini adalah dicapainya suatu perilaku kelompok yang produktif.
Kepemimpinan adalah suatu kegiatan dalam membimbing suatu kelompok sedemikian hingga/rupa sehingga tercapai tujuan dari kelompok itu yaitu tujuan bersama (Soetopo dan Soemanato, 1984). Menurut buku yang diterbitkan oleh Universitas Negeri Surabaya, kepemimpinan merupakan inti dari manajemen atau dengan kata lain merupakan motor/daya penggerak dari semua sumber dan alat-alat (resources) yang tersedia didalam organisasi. Resources dapat dibagi menjadi golongan besar, yaitu human resources (man), dan non human resources (money, method, market, machine, material). Kimball Wiles (1961:29) dalam bukunya yang berjudul “Supervision for better shools” secara singkat menyatakan “leadership is any contribution to establishment and attainment of group porpuse ”. Kepemimpinan merupakan bantuan yang diberikan terhadap penetapan dan pencapaian tujuan kelompok. Kepemimpinan dalam hal ini, bukan semata-mata memberikan perintah atau komando kepada para anggota dalam rangka pencapaian tujuan tetapi merupakan aktivitas bantuan dalam rangka menetapkan dan mencapai tujuan (Prasojo dan Sudiyono, 2011).
Baca entri selengkapnya »