MANAJEMEN BERBASIS SEKOLAH

Posted: Juni 6, 2012 in Kebijakan Pendidikan

Secara yuridis ketetapan lahirnya Manejemen Berbasis Sekolah di Indonesia bergulir sejak era reformasi. Hal ini telah ditetapkan dalam peraturan perundangan tentang UU Otonomi Daerah, UU No 22 tahun 1999 tentang pemerintah daerah, dan UU No 25 tentang perimbangan kekuatan keuangan antara Pusat dan Daerah (kini disempurnakan menjadi UU No 32 tahun 2004 dan UU No 33 tahun 2004), yang telah mengubah segala peraturan dari yang bersifat sentralistik (top down) menjadi desentralisasi. Pemerintah pusat telah memberikan kewenangan bagi masing-masing daerah untuk mengatur atau mengurus segalah urusan rumah tangga daerahnya masing-masing termasuk dalm hal pendidikan.

Tujuan implementasi program MBS adalah jelas untuk mencapai peningkatan mutu dalam penyelenggaraan pendidikan, sejalan dengan apa yang tercantum dalam UU No. 20 Tahun 2003, pendidikan diselenggarakan dengan prinsip pemberdayaan seluruh komponen masyarakat melalui peran serta dalam penyelenggaraan dan pengendalian mutu layanan pendidikan.

MBS sebagai sistem, memiliki komponen-komponen yang saling terkait secara sistematis satu sama lain, yaitu konteks, input, proses, output, dan outcome. Konteks adalah eksternalitas sekolah berupa demand dan support (permintaan dan dukungan) yang berpengaruh pada input sekolah. Evaluasi konteks berarti evaluasi tentang kebutuhan. Alat yang tepat untuk melakukan evaluasi konteks adalah penilaian kebutuhan (need assesment). Input adalah segala sesuatu yang harus tersedia dan siap karena dibutuhkan untuk melangsungkan proses. Esensi evaluasi pada input adalah untuk mendapatkan informasi tenatng ketersediaan dan kesiapan input sebagai prasyarat untuk berlangsungnya proses. Proses adalah berubahnya sesuatu menjadi sesuatu yang lain, dalam MBS sebagai sistem, proses terdiri atas proses pengambilan keputusan. Proses pengelolaan kelembagaan, proses pengelolaan program, proses belajar mengajar, proses evaluasi sekolah, dan proses akuntabilitas. Dengan demikian, fokus evaluasi pada proses adalah pemantauan (monitoring) implementasi MBS sehingga dapat ditemukan informasi tentang konsistensi atau inkonsistensi antara rancangan atau desain MBS semula dan proses implementasi yang sebenarnya.

Output adalah hasil nyata dari pelaksanaan MBS. Fokus evaluasi pada output adalah mengevaluasi sejauh mana sasaran (immediate objectives) yang diharapkan (kualiatas, kuantitas, waktu) telah dicapai oleh MBS. Outcome adalah hasil MBS jangka panjang yang berbeda dengan output yang hanya mengukur hasil MBS sesaat atau jangka pendek. Fokus evaluasi outcome adalah pada dampak MBS jangka panjang, baik dampak individual (tamatan SMP), institusional (SMP), dan sosial (masyarakat). Untuk melakukan evaluasi ini, pada umumnya digunakan analisis biaya-manfaat (cost-benefit analisys).

SUMBER:

Rohiat. 2010. Manajemen Sekolah, Bandung: Refika Aditama

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s